Forget Jakarta—i'm not.
Pagi ini aku berjalan kaki—seperti biasa, di trotoar di pusat perkantoran (mantan) Ibukota. Menuju sebuah gedung tempatku bekerja selama kurang lebih satu tahun ini. Di telinga suara Adhitia Sofyan berkumandang merdu, menyanyikan lagu Forget Jakarta. Lirik, ‘lets forget Jakarta...’ Tepat terdengar ketika aku sedang menatap gedung-gedung tinggi di sekitarku. Tiba-tiba haru menyeruak, entah kenapa. Tidak, aku tidak ingin melupakan Jakarta. Meski kemacetan, kerusuhan, polusi udara, dan segala macam kekurangan yang Jakarta miliki. Bagiku Jakarta tetap memiliki pesonanya tersendiri. Seperti, Gemerlap lampu yang bisa kamu nikmati dengan kopi seharga 24.000 dari atas gedung yang menyenangkan. Atau gratis memperhatikan lampu-lampu mobil yang membentuk titik-titik merah panjang dari atas jembatan penyebrangan. Menikmati malam Jakarta yang begitu memikat pesonanya dari atas kereta berjalan seharga 3 – 14 ribu. Atau menghirup udara pagi yang minim sekali, mer...