Postingan

Menampilkan postingan dengan label fiction

Bertemu.

Gambar
Kita bertemu. Di persimpangan jalan. Aneh, jalanan itu begitu sepi, tidak ada kendaraan bermotor. Hanya beberapa orang berjalan, bersisian, sendirian. Tidak ada yang memperhatikan kita yang saling bersitatap tanpa berkata apa-apa. Kuat sekali keinginan dalam hatiku untuk berlari ke arah mu. Entah bagaimana, rasanya aku pun tau betapa ingin hatimu menuju ku. Tatapanmu kosong sekaligus penuh. Sementara lidahku kelu. Tanganmu berusaha menjangkau tubuhku, tiba-tiba saja tubuh kita saling mendekat, bahkan tanpa perlu melangkah. Kita begitu dekat, sangat dekat. Namun entah mengapa, tanganmu tertahan hingga tak bisa meraihku. Kini aku yang berusaha meraihmu, namun aku pun sama. Tak mampu meraihmu barang setitik pun. Telunjuk kita sudah sangat dekat, layaknya terselang selembar kertas tipis. Namun tetap tidak bisa saling bersentuhan. Air mata ku turun begitu saja, seakan menyadari bahwa takdir memang sudah tidak lagi kita miliki. Perlahan kamu menjauh, aku juga. Namun sek...

Forget Jakarta—i'm not.

Gambar
Pagi ini aku berjalan kaki—seperti biasa, di trotoar di pusat perkantoran (mantan) Ibukota. Menuju sebuah gedung tempatku bekerja selama kurang lebih satu tahun ini. Di telinga suara Adhitia Sofyan berkumandang merdu, menyanyikan lagu Forget Jakarta. Lirik, ‘lets forget Jakarta...’ Tepat terdengar ketika aku sedang menatap gedung-gedung tinggi di sekitarku. Tiba-tiba haru menyeruak, entah kenapa. Tidak, aku tidak ingin melupakan Jakarta. Meski kemacetan, kerusuhan, polusi udara, dan segala macam kekurangan yang Jakarta miliki. Bagiku Jakarta tetap memiliki pesonanya tersendiri. Seperti, Gemerlap lampu yang bisa kamu nikmati dengan kopi seharga 24.000 dari atas gedung yang menyenangkan. Atau gratis memperhatikan lampu-lampu mobil yang membentuk titik-titik merah panjang dari atas jembatan penyebrangan. Menikmati malam Jakarta yang begitu memikat pesonanya dari atas kereta berjalan seharga 3 – 14 ribu. Atau menghirup udara pagi yang minim sekali, mer...

Bercerita

Gambar
Hari ini langit bercerita, tentang angin yang berdesau lirih; tentang burung yang berkicau tanpa henti; tentang orang-orang sibuk berjalan kaki; tentang mimpi serta kesempatan yang datang silih berganti. Kemudian aku juga menyumbang suara. Aku bercerita tentang mentari langit yang tiada dua; tentang bintang dan cahaya yang jumlahnya berjuta-juta; tentang orang-orang riang penuh asa; tentang hati yang bertanya-tanya tentang cinta. Lewat warna langitnya, aku tau langit terbahak mendengar kata cinta. Mungkinkah ia sudah muak? Entah. Namun secepat itu pula ia menggelap. Ya sudah, langit saja menolak berbicara, Siapa lah aku berani berharap? (source: weheartit.com)

(Bukan) Lagu Kita

Gambar
Saat itu aku sedang membaca alinea kedua dari sinopsis sebuah novel. Sesaat ketika tiba-tiba saja sebuah lagu berkumandang menggantikan suara Adam Levine yang terdengar pada seluruh toko buku. Hanya mendengar intro awalnya saja, darah ku sudah berdesir. Segera saja, seiring dengan beragam lirik yang diceritakan oleh sang penyanyi, ingatanku mundur pada beberapa bulan. Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat itu masih ada aku dan kamu. Malam itu kita bertemu. Pertemuan biasa layaknya dua orang teman lama yang sudah lama tidak jumpa. Padahal sebenarnya baru sekitar 2 minggu kita tidak saling bertemu. Tapi ketika bertemu denganmu saat itu, entah, kamu sudah terasa begitu jauh. Namun kamu tetap kamu. Dengan segala tingkah laku konyolmu. Lantas kita pergi ke sebuah pusat perdagangan di ibu kota. Mencari apa yang harus dicari, katamu. Aku mengikuti saja, sambil sesekali memperhatikanmu dari batas yang kamu tidak akan tau—atau sebenarnya kamu tau? Entahlah. Di perjalanan tiba-t...

Kupu-Kupu Malam

Gambar
Kata orang, aku ini kupu-kupu malam. Kata mereka, aku sampah masyarakat.  Katanya aku ini tidak tahu diri, tidak tahu malu. Segala hal negatif selalu disematkan kepada ku. Kata orang, aku ini wanita jalang. Kata mereka, aku tidak pantas diterima. Katanya aku ini tidak tahu diuntung, orang tuaku pasti tidak sudi mengakui aku sebagai anak mereka. Hah. Mereka tahu apa tentang hidupku? Mereka memandangiku dari atas sampai bawah. Menilik pakaian yang aku pakai.  Pakaianku selalu salah. Terbuka, aku dibilang ‘ pantas, dasar jalang.’ Tertutup, aku dibilang ‘munafik.’ Menggunakan baju mahal, mereka bilang ‘halah, hasil uang haram.’ Menggunakan baju murah, mereka bilang ‘sama seperti yang menggunakan, murahan.’ Bangsat. Mereka memandangiku dari atas sampai bawah. Memperhatikan gerak-gerik aku. Semuanya selalu salah. Aku kurang ajar, dibilang ‘dasar, tidak tahu diri.’ Aku berusaha sopan, dibilang ‘belaga sopan...

Untuk Kecupmu

Gambar
Kamu pulang malam lagi hari itu. Kamu masuk rumah tanpa mengucap salam, melepas sepatu lalu menaruhnya di rak sepatu berwarna kesukaanmu—yang ketika membelinya kita menghabiskan waktu 10 menit untuk berdebat warna rak sepatu tersebut. Kemudian kamu meminum air putih yang pasti selalu ada di atas meja makan. Lantas setelahnya kamu masuk ke dalam kamar mandi, menghabiskan waktu sekitar 15 menit, lalu naik ke atas tempat tidur setelah memakai celana boxer serta kaos oblong tipis yang sangat kamu sukai itu. Kamu mengecup keningku, lalu tertidur di sebelahku. Sesudah kamu terlelap—aku menandakan dengan dengkur halus dan napas yang mulai teratur—aku bangun dan memandangimu lekat-lekat. Wajahmu terlihat lelah sekali, seperti banyak yang kamu pikirkan, namun entah apa. Sayangnya kita tidak saling memiliki, atau menyediakan, waktu untuk berbincang setiap harinya. Aku mengelus kepalamu sayang, mencoba menyalurkan rasa gelisah yang entah sudah berapa minggu ini aku rasakan tanpa mampu a...

Kenapa Kita?

Gambar
“Too many possibilities in this world and how could we become one?” Kalimat itu terus berputar di kepala Dira. Bahkan ketika ia kini sedang dalam pelukan hangat seorang laki-laki yang begitu ia sayangi. “Jakarta luas ya?” Ucap sosok itu sambil memandangi luar jendela, hamparan kota dengan begitu banyak gedung tinggi terlihat di hadapan mereka. “Hmm.” Sementara Dira hanya mengangguk sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang laki-laki tersebut. Begitu banyak pula harapan di luar sana. Adalah apa yang Dira tidak ucapkan—tidak berani ucapkan. Dira menahan tangisnya kuat-kuat, ia tidak ingin segala yang ia pikirkan kemudian menjadi beban pikiran laki-laki tersebut. “Too many possibilities in this world and how could we become one?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. “Maksud kamu?” “Ya..iya. Begitu banyak kemungkinan yang ada di dunia dan kenapa kita yang harus dipertemukan? Kita dengan berbagai masalah yang ada?” “ I think it’s j...