Postingan

Kepada Masa Laluku.

Gambar
Pagi ini aku berjalan kaki ditemani lagu-lagu soundtrack film Dilan. Kemudian sampailah pada lagu ‘Dulu Kita Masih Remaja’, yang mana lagunya menceritakan tentang masa lalu si tokoh utama dalam lagu, bersama dengan mantan kekasihnya di masa SMA dulu. Mau tidak mau, segera saja lagu ini mengingatkan ku pada seseorang yang mengisi masa SMA dengan suka dan duka. Bukan hanya kepadanya, namun juga pada seseorang yang bersama-sama denganku membaca novel Dilan untuk pertama kali. Lagu ini mengingatkanku pada mereka, dua orang di masa lalu yang akhirnya pernah benar-benar masuk ke dalam duniaku, untuk akhirnya pergi lagi. Hai, apa kabar? Sudah lama rasanya aku tidak menulis tentang kamu, selagi dulu isi tulisanku bernyawakan kamu. Aku harap semuanya berjalan baik-baik saja, seperti dulu aku selalu berpesan agar kamu bahagia, ku harap setidaknya, harapanku yang itu benar-benar terwujud saat ini—setelah harap-harap lain yang harus aku ikhlaskan untuk tidak mungkin menjadi n...

Forget Jakarta—i'm not.

Gambar
Pagi ini aku berjalan kaki—seperti biasa, di trotoar di pusat perkantoran (mantan) Ibukota. Menuju sebuah gedung tempatku bekerja selama kurang lebih satu tahun ini. Di telinga suara Adhitia Sofyan berkumandang merdu, menyanyikan lagu Forget Jakarta. Lirik, ‘lets forget Jakarta...’ Tepat terdengar ketika aku sedang menatap gedung-gedung tinggi di sekitarku. Tiba-tiba haru menyeruak, entah kenapa. Tidak, aku tidak ingin melupakan Jakarta. Meski kemacetan, kerusuhan, polusi udara, dan segala macam kekurangan yang Jakarta miliki. Bagiku Jakarta tetap memiliki pesonanya tersendiri. Seperti, Gemerlap lampu yang bisa kamu nikmati dengan kopi seharga 24.000 dari atas gedung yang menyenangkan. Atau gratis memperhatikan lampu-lampu mobil yang membentuk titik-titik merah panjang dari atas jembatan penyebrangan. Menikmati malam Jakarta yang begitu memikat pesonanya dari atas kereta berjalan seharga 3 – 14 ribu. Atau menghirup udara pagi yang minim sekali, mer...

Bercerita

Gambar
Hari ini langit bercerita, tentang angin yang berdesau lirih; tentang burung yang berkicau tanpa henti; tentang orang-orang sibuk berjalan kaki; tentang mimpi serta kesempatan yang datang silih berganti. Kemudian aku juga menyumbang suara. Aku bercerita tentang mentari langit yang tiada dua; tentang bintang dan cahaya yang jumlahnya berjuta-juta; tentang orang-orang riang penuh asa; tentang hati yang bertanya-tanya tentang cinta. Lewat warna langitnya, aku tau langit terbahak mendengar kata cinta. Mungkinkah ia sudah muak? Entah. Namun secepat itu pula ia menggelap. Ya sudah, langit saja menolak berbicara, Siapa lah aku berani berharap? (source: weheartit.com)

(Bukan) Lagu Kita

Gambar
Saat itu aku sedang membaca alinea kedua dari sinopsis sebuah novel. Sesaat ketika tiba-tiba saja sebuah lagu berkumandang menggantikan suara Adam Levine yang terdengar pada seluruh toko buku. Hanya mendengar intro awalnya saja, darah ku sudah berdesir. Segera saja, seiring dengan beragam lirik yang diceritakan oleh sang penyanyi, ingatanku mundur pada beberapa bulan. Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat itu masih ada aku dan kamu. Malam itu kita bertemu. Pertemuan biasa layaknya dua orang teman lama yang sudah lama tidak jumpa. Padahal sebenarnya baru sekitar 2 minggu kita tidak saling bertemu. Tapi ketika bertemu denganmu saat itu, entah, kamu sudah terasa begitu jauh. Namun kamu tetap kamu. Dengan segala tingkah laku konyolmu. Lantas kita pergi ke sebuah pusat perdagangan di ibu kota. Mencari apa yang harus dicari, katamu. Aku mengikuti saja, sambil sesekali memperhatikanmu dari batas yang kamu tidak akan tau—atau sebenarnya kamu tau? Entahlah. Di perjalanan tiba-t...

Kupu-Kupu Malam

Gambar
Kata orang, aku ini kupu-kupu malam. Kata mereka, aku sampah masyarakat.  Katanya aku ini tidak tahu diri, tidak tahu malu. Segala hal negatif selalu disematkan kepada ku. Kata orang, aku ini wanita jalang. Kata mereka, aku tidak pantas diterima. Katanya aku ini tidak tahu diuntung, orang tuaku pasti tidak sudi mengakui aku sebagai anak mereka. Hah. Mereka tahu apa tentang hidupku? Mereka memandangiku dari atas sampai bawah. Menilik pakaian yang aku pakai.  Pakaianku selalu salah. Terbuka, aku dibilang ‘ pantas, dasar jalang.’ Tertutup, aku dibilang ‘munafik.’ Menggunakan baju mahal, mereka bilang ‘halah, hasil uang haram.’ Menggunakan baju murah, mereka bilang ‘sama seperti yang menggunakan, murahan.’ Bangsat. Mereka memandangiku dari atas sampai bawah. Memperhatikan gerak-gerik aku. Semuanya selalu salah. Aku kurang ajar, dibilang ‘dasar, tidak tahu diri.’ Aku berusaha sopan, dibilang ‘belaga sopan...

The Favorite Topic Everyone Talk About—Marriage!

Gambar
Hi! Whats going on? Kehidupan akhir-akhir ini lagi penuh banget sama kejutan, pilihan, kecewa dan bahagia. Yaa lagi naik turun banget kehidupan gue and i cant do anything beside enjoying the ride. Hoping you’re enjoying it too! Well, entah kenapa rasanya di usia gue, atau memang akhir-akhir ini, tiba-tiba nikah menjadi isu penting bagi (hampir) semua orang. Kebanyakkan dari temen-temen gue, thread twitter, rata-rata membahas pernikahan. Entah tentang pernikahan mereka, keingingan nikah mereka, pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan, atau justru nasihat untuk ngga cepet-cepet nikah. Ya intinya, rasanya akhir-akhir ini pernikahan menjadi topik seru di berbagai ruang pembicaraan. Sampai akhirnya gue berpikir ‘oh okay, mungkin emang udah seharusnya dan sewajarnya di umur segini gue bahas tentang pernikahan’ meskipun sebenarnya deep down inside gue masih mempertanyakan what is the meaning of marriage? Until finally i found one reason yang jauh dari romantisme bersama pas...

Untuk Kecupmu

Gambar
Kamu pulang malam lagi hari itu. Kamu masuk rumah tanpa mengucap salam, melepas sepatu lalu menaruhnya di rak sepatu berwarna kesukaanmu—yang ketika membelinya kita menghabiskan waktu 10 menit untuk berdebat warna rak sepatu tersebut. Kemudian kamu meminum air putih yang pasti selalu ada di atas meja makan. Lantas setelahnya kamu masuk ke dalam kamar mandi, menghabiskan waktu sekitar 15 menit, lalu naik ke atas tempat tidur setelah memakai celana boxer serta kaos oblong tipis yang sangat kamu sukai itu. Kamu mengecup keningku, lalu tertidur di sebelahku. Sesudah kamu terlelap—aku menandakan dengan dengkur halus dan napas yang mulai teratur—aku bangun dan memandangimu lekat-lekat. Wajahmu terlihat lelah sekali, seperti banyak yang kamu pikirkan, namun entah apa. Sayangnya kita tidak saling memiliki, atau menyediakan, waktu untuk berbincang setiap harinya. Aku mengelus kepalamu sayang, mencoba menyalurkan rasa gelisah yang entah sudah berapa minggu ini aku rasakan tanpa mampu a...